Close my mind

“What do you think about being a parent?”
“Do you regret your decision before?”
“Did you ever feel like this before?”
“Do you want to move on?”
Those questions from myself keep repeating on my blank mind, tonight.

Honestly it was so devastating to hear that, I expect better than that.
How long can I hold on? Only Allah knows.
All I know, “Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu”

“But you can say what is, or fight for it
Close your mind or take a risk
You can say, “It’s mine,” and clench your fist
Or see each sunrise as a gift” -Up and Up

Not so quarter life crisis

Do you ever heard about quarter life crisis?

Only 4 days left to my birthday, and it’s not 25, but I know that now I am experiencing my ‘not so quarter life crisis’. Everyday I felt anxious and dizzy at the same time, thinking about my future, “who I want to be? Why I’ve taken this path?, etc”. Earlier in 2015, I lost my Dad, and it’s a beginning of my gloomy moment. I couldn’t tell the detail, but it’s really hurt to lost your parent and then everything fell on you, like your world falling apart, and then you don’t know what to do.

The communication between me and my mom is not always good after my father passed away, but this is the lowest point after all. Sometimes it’s hard to tell the truth because tell a lie is always an easy way. I look back at the past time, and I knew that something missed in my teenage times, and it’s because of her. She never admitted that it was her fault to ignored her only daughter (like always), and I’m the one who always keep silent because I don’t want to hurt my mom’s feeling. In the end, I always keep my tears alone in my room, hoping that my life would change. The experienced I had with my mom always haunting me and I don’t want Jasmine (my daughter) to experiences the same.

If you love someone, please prove it, don’t just say ‘I love you’, because ‘I love you’ is only a nice words. 

And the most hurting words came from my mom’s mouth was “I never expected you would grown up to be like this”

Yeah, did you ever guide me to the ‘right path’? Did you ever try to give me your best, like your parents gave to you? 

I never blamed you before, because I thought that it wasn’t your fault, it’s because of what happened in our family, you focused only to ‘him’, all the times. But after what happened to Dad last year, and what I had told you, I know that you don’t really care. And again, it came up quickly on my mind, how could you?

I have a daughter now, and when I see her face I know that her future is my duty, I should prepare her to face the world, I should educate her, and the most important: I should give her the best thing I could do. I shouldn’t let her face the world without guidance, I should let her cry in my shoulder, and I should encourage her, give my best support, all I can do to make her can face her future.

After Jasmine was born, my world’s changing.

She is the most beautiful baby (for me, of course). And what I love most about her, she is so determine. She seldom cries and sleeps late at night (that’s why I never experienced lack of sleep after she was a months old), and she seldom cries when I bring her everywhere, she only cries when she wants breastmilk or want to sleep, and sometimes when I left her to the bathroom 😝

What happened on the last week changed my perspective, and I knew that I should change my life all by myself. I shouldn’t let my hope to a human too high, only to Allah I can lean on. Btw, I still love my mom, whatever she had done to me.

After all this time? Always 😊

 

Dilema perempuan

“You educate a man; you educate a man. You educate a woman; you educate a generation.” ― Brigham Young “In politics, If you want anything said, ask a man. If you want anything done, ask a woman.” ― Margaret Thatcher … Continue reading

Your job is not your career

Bekerja di bidang yang benar-benar tidak nyambung dengan dunia kuliah itu ada plus dan minusnya.
Plusnya :
1. Bertambah pengalaman dan pengetahuan
2. Bertambah teman dari jurusan kuliah yang sama sekali berbeda
3. Bertambah skill untuk meng handle orang dengan background yang sama sekali berbeda
Minusnya :
1. Ilmu waktu kuliah dulu tidak terpakai
2. Kadang susah berinteraksi dengan orang-orang yang pola pikirnya ga sesuai sama pola pikiran kita (hasil didikan jaman kuliah, mungkin?)

Sejak hampir 2 tahun ini saya bekerja di bidang yang sama sekali bukan bidang kuliah saya, dan rasanya campur aduk. Disebut mengejar passion? Jelas bukan. Mengejar karir dan uang? Juga bukan. Yang jelas setelah 2 tahun bergelut di bidang ini saya sangat ingin kembali ke jalan yang benar (loh?)
Kenapa? Duitnya kurang? Ngga, alhamdulilah bahkan udah jadi karyawan permanen, kesehatan terjamin, fasilitas banyak, dan dibandingkan kerjaan konsultan yang pernah saya geluti dulu ini much better lah secara finansial, tunjangan-tunjangan, dll. Bisa nabung, beli ini itu yang dipengen mulai dari perawatan kecantikan (yang dulu mungkin ga pernah kepikiran bisa beli), bisa beli buku edisi luar yang harganya dulu mungkin mikir berapa kali untuk beli (dan sekarang tiap bulan bisa beli sendiri ga mikir lagi), makan enak ga perlu mikir, dll. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?
Tapi ada sesuatu yang mengganjal sejak kerja di tempat ini. Banyak hal sih, awalnya saya pikir saya yang manja dan terlalu banyak kepengen, tapi makin lama berada disini, rasanya ada yang kurang dan salah.
1. Turnover super tinggi (sampai 10%)
2. Banyak orang yang berpikir untuk segera move dari tempat ini, mulai dari mencari perusahaan lain atau sekedar mengeluh setiap hari tentang culture perusahaan, boss, dan ketidakjelasan karir disini
3. Ketidakjelasan job desk
Saya sependapat dengan orang-orang yang bilang bahwa kerja itu dimana aja sama, akan ada enak dan ga enaknya. Setuju banget. Tapi mungkin sebagai manusia yang masih waras dan berpikiran untuk karir dan masa depan, pekerjaan seperti ini bukan hal yang cocok untuk saya.
Yang paling inigin saya garis bawahi adalah ketidakjelasan job desk. Kenapa? Di hire untuk jadi apa tapi baru sebulan kerja sudah ditambah job desk lain, yang sebenarnya harusnya dikerjakan oleh 1 orang lain yang berbeda. Kerjaan 2 orang dijadiin 1 itu sesuatu banget loh. Sekarang sudah 2 bulan sejak kerjaan satu itu sudah ada orang lain yang pegang, ternyata saya malah dibebani pekerjaan lain yang tidak ada di jobdesk saya, dan parahnya itu ya sebenarnya jauh dari jobdesk, karena harusnya itu meng-hire orang baru.
Yang jelas sebelum lahiran saya males untuk pindah-pindah kerjaan, bukannya betah tapi males juga diem di rumah bengong mau ngapain, setidaknya banyak hal di benak saya untuk merubah jalan karir mau kemana. Bukan tidak bersyukur (mungkin itu yang orang-orang kantor bilang), tapi di usia masih muda wajar kan jika ingin mengerjakan sesuatu yang sesuai passion? Wajar kan jika masih punya mimpi untuk lebih dari sekedar duduk di meja kantor mengejar uang tapi dengan hati misuh-misuh? Because i think money will come when you enjoy your job. Selain itu kan kita perlu juga memikirkan pengembangan diri kita (yang akan berguna untuk karir kedepannya), sekarang kalau kerjaan kamu hanya mematikan karir kamu untuk kedepannya lalu buat apa kamu bekerja? Mau sampai pensiun di tempat ini jelas bukan pilihan, 2 tahun saja sepertinya nyaris ga mungkin.
Yah, sepertinya diingatkan kembali dengan janji awal dengan suami sebelum menikah, mungkin sekolah lagi adalah solusi jika ingin kembali mengejar cita-cita dahulu.
Wish me luck.

-Suatu siang di meja kantor

Hunting

I was wondering what’s the definition of happiness, when i suddenly realize that it’s not pursuing something that you don’t have, but being happy for what you already have.

When i went to Solo on Iedul Fitri event, my mother in law gave me a book, it’s entitled Happiness in Hard Time .

Before she gave me that book, i’m not happy with my self, i feel bored, and i didn’t even know what to do with my ambition. I’m too stubborn, “i want this, and i want that!”, i was too focused on my self, my future, my career.. I almost forgot that i’m a wife now, there’s someone who always want to see me smile everyday when we wake up, and when we fall a sleep. He’s a good husband, and me?

Just an ambitious woman who still try to pursue my own dream, i am so selfish, and i hate my self for that. 

I’m still reading Happiness in Hard Time and i learn that everything happened for a reason (or many reason), and i have everything that a woman need (need, not want). My husband isn’t dictator type person, he always supports everything i want to be and to do, so when i said that i need to get higher degree he said we can make it as a partner, he won’t let me go alone to pursue my degree, he will pursue his degree too in the same country. 

I’m blessed..

Now we’re hunting for our next campus, it’s hard to choose which country suitable for us, maybe UK, Germany, or US? We still try to figure it out, what’s the positive and negative from every country and their university.

Bismillah, may Allah give us the best 🙂

 

hei, impian

Hujan rintik-rintik sedang asyiknya mengguyur jakarta.
Bau hujan dimana-mana, bau tanah, rumput, lumut.
Musik pengiring pun terdengar sayup-sayup di telinga, seperti sedang ikut merasakan suasana hati.
Manusia, sibuk dengan segala hal duniawi, seperti lupa bahwa dunia itu tidak abadi.
Manusia, kadang merasa benar sendiri, merasa dialah yang harus berkuasa di dunia.
Dan aku terjebak di antara manusia-manusia itu.
Aku muak, aku benci.
Tapi kebencian bukan jalan untuk menghentikan ini semua.
Lalu hanya sekedar muak? Lalu kemana arah yang akan kuambil?
Sudah lama sekali kunantikan kebebasan ini, kebebasan yang harus diganjar mahal, mungkin dengan tetesan air mata?
Lalu setelah kebebasan lalu apa?
Rasanya seperti mendaki, pendakian terjal tiada akhir, ketika kamu sudah tau apa intinya hidupmu.
Mendaki untuk mencapai apa yang kamu rasa hal paling penting untuk kamu lakukan sebelum kamu mati.
iya, karena semua manusia pasti mati.
Apa yang ingin kamu lakukan, hei?
Aku biarkan mereka menertawakanku, menganggap aku seperti merindukan bulan.
Tapi siapa kamu untuk menilai?
Ketika Tuhan berkehendak, siapa yang bisa menolak?
Sungguh manusia itu mahluk yang sok tahu.
Mimpi itu seperti masih jauh di angan, tapi entah kenapa rasanya dekat, dekat dan semakin dekat.
Seolah tidak mau terlupakan si mimpi kembali membayangi, menari-nari di depanku, menggoda seraya berkata, “lupakah kau kepadaku? aku cinta pertamamu, aku impianmu yang paling besar, aku yang akan membuat hidupmu bermakna.”
Bolehkah kuambil kamu hei impian?
Ketika aku bisa menggapaimu, aku tau itu bukan akhir, perjalanan baru akan dimulai saat itu.
Ijinkan aku membawa teman hidupku kesana, karena kini kami terikat janji suci.
Ijinkan aku berlari riang bersamanya seolah kami akan hidup seribu taun lagi.
Ijinkan aku mengenyam apa yang kau tawarkan.
Karena aku tau apa yang aku mau, bukan hanya menjadi istri orang, memiliki banyak anak, lalu berhenti bekerja demi alasan mengasuh anak. Jika hanya itu yang aku mau, artinya aku berhenti bertualang, dan bukan suamiku yang sekarang ini yang kupilih jika maksudku hanya sebatas itu.
Aku dan dia berjanji untuk menjelajah dunia bersama, dia yang akan menemaniku melangkahkan kaki ke segala penjuru dunia, dan aku yang akan menemaninya kemana imamku itu akan berjalan.
Menetap saat ini bukan pilihan, pilihan manusia lain mungkin, tapi tidak untuk kami.

“to boldly go where no one has gone before”

Tunggu aku, hei impian. 🙂